My Pregnancy Loss Story

Finally. Here we go.

Saya mencoba menulis post ini berdasarkan kronologi medis. Namun selayaknya seseorang yang kehilangan, setiap kejadian dan proses selama saya keguguran ini berhasil mengobrak-abrik isi hati saya. I cried for weeks (until today). My heart has an empty hole that can never be mended. Yet here I am, hopefully getting tougher.

Secara statistik, keguguran atau stillbirth terjadi di antara sekitar 10-15% kehamilan. Shocking? Yes! Sebegitu besarnya statistiknya, namun ketika menjalaninya, saya seperti merasa sayalah satu-satunya yang mengalaminya di dunia ini. Keguguran seolah-olah seperti sesuatu yang harus dijalani oleh seorang perempuan sendirian, sering kali dengan minim support. Padahal, kehilangan yang dialami itu nyata, dan setiap kesedihan yang kita alami itu valid. My grief is valid.

I shouldn’t feel alone going through this grieving process, neither should other women. Saya harap cerita saya ini bisa membuat teman-teman, ibu-ibu, dan seluruh perempuan di luar sana yang juga sedang merasakan kehilangan, memahami bahwa mereka tidak sendiri.

Dan inilah cerita saya:

Senin, 12 April 2021

Menyambung post sebelumnya, tanggal 11 April saya dirawat karena pendarahan, dan ternyata keesokan harinya, saya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Nggak ada indikasi apa-apa tentang situasi kehamilan saya karena sudah dicek dokter dan semuanya aman. FYI saya ditangani oleh dokter subspesialis fetomaternal, jadi memang pemeriksaannya sangat detail dan tidak ditemukan kejanggalan apapun. Pesannya hanya satu, jika masih pendarahan, saya masih harus bed rest. Namun jika bersih, saya diperbolehkan beraktivitas ringan. Saya pun dijadwalkan untuk kontrol dua minggu ke depan.

Sepulangnya dari rumah sakit, saya melanjutkan bed rest, sesuai saran dokter. Seminggu, dua minggu, flek masih terus ada meskipun ringan dan sedikit. Tapi untuk jaga-jaga, saya memang nggak turun tempat tidur agar nggak terlalu banyak gerak. Pertama kali saya keluar rumah kembali yaitu tanggal 23 April, saat waktunya kontrol ke dokter.

Jumat, 23 April 2021

Saya datang ke RS dengan biasa-biasa saja. Saya nggak punya firasat apapun tentang kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Malam itu, saya diantar Abang untuk kontrol rutin ke dokter.

Saat di ruang dokter, seperti biasa saya di-USG. Dan karena sebelumnya dokter juga selalu diam saat pemeriksaan USG, saya nggak menaruh curiga sama sekali bahwa ada sesuatu yang salah.

Until it did.

Awalnya dokter membahas soal bekuan darah di rahim saya. Beliau mengatakan bekuannya membesar. Namun saya ingat perkataan dokter bahwa ini tidak berbahaya dan tidak membahayakan janin. Jadi asalkan saya hati-hati, kami (saya dan janin) tidak kenapa-kenapa.

Lalu dokter beralih ke janin.

I won’t give the details about my baby’s condition and what happened that night at the doc’s office, because it turns out it really hurts to even think about it.

Malam itu saya tak kuasa menahan tangis saat dokter menyampaikan bahwa bayi dalam kandungan saya sudah tidak ada. I tried to hold back tears, but I couldn’t. Selama pemeriksaan, saya meremas tangan Abang kuat-kuat. My heart could explode at any time.

Saya berusaha untuk menyelesaikan hal-hal terkait medis dulu. Dokter bilang, saya tidak harus mengambil keputusan malam itu dan bisa menenangkan diri dulu. Kalau mau closure, saya juga diperbolehkan untuk mencari second opinion. Dokter menyarankan agar saya menjalani kuret karena kalau hanya pakai obat, ditakutkan tidak bersih, apalagi saya ada bekuan darah di rahim.

Satu hal yang membuat saya hancur berkeping-keping adalah saat dokter mengatakan, “Seminggu, dua minggu ke depan, kalau Ibu nggak kuret pun, pasti rahim Ibu mengalami kontraksi karena tubuhnya sudah tidak mengenali detak jantung bayinya.”

That moment, I felt my body betrayed me.

How could my body reject someone I love dearly?

How could my body do this to my own baby?

Terlalu banyak hal yang saya terima malam itu, dan membuat saya tidak bisa berpikir sama sekali. Satu-satunya hal yang saya pikirkan hanyalah: I was pregnant, but my baby wasn’t alive.

Sesampainya di mobil, saya menangis sejadi-jadinya. Entah kapan terakhir kalinya hati saya sesakit itu.

Malam itu, saya nggak bisa tidur. Pikiran saya terus berputar-putar tentang apa yang baru saja terjadi. Rasanya dunia langsung jungkir balik dalam satu malam.

Sabtu-Minggu, 24-25 April 2021

Di kala weekend, saya mencari-cari informasi soal kuret ini. Saya juga daftar ke dokter feto lainnya untuk second opinion. Sebenarnya saya tahu hasilnya akan sama saja, tapi saya ingin merasa diyakinkan. Ini lebih ke faktor psikologis daripada fisik.

Walaupun begitu, saya tetap sudah menjadwalkan kuret di BMC hari Senin-nya. Setelah berkonsultasi dengan keluarga, secepat mungkin dilakukan lebih baik. Karena kalau kelamaan, takut tiba-tiba pendarahan juga. Jadi Senin pagi saya rencana ke dokter feto lainnya, Senin siang saya udah dijadwal untuk perawatan di BMC.

Tanggal 25 malam, hati saya kembali merasa hancur. Itu adalah malam terakhir saya bersama anak dalam kandungan saya. It felt so surreal.

Senin, 26 April 2021

Pagi-pagi, saya dan Abang pergi ke PMI untuk ke poliklinik kandungan. Siapa sangka, tepat di depan ruangan dokter, saya tiba-tiba pendarahan. Padahal sumpah gak ada rasa apa-apa sebelumnya, mules pun nggak. Untungnya waktu itu dokternya belum datang dan saya baru ditangani suster. Dan untung juga karena hari itu udah niat mau nginap, jadi kami bawa baju di mobil. Segeralah Abang ambil baju untuk nutupin celana saya yang penuh darah. Setelah menimbang-nimbang, we don’t have more time. Kami akhirnya bilang ke suster untuk batalkan appointment dan segera menuju BMC.

Jujur rasanya pengen bersedih, tapi merasa waktunya belum tepat. Saya pengen nyelesein semua urusan medisnya dulu, baru memproses duka ini. Saya coba fokus untuk tindakan dan recovery saya pasca kuret nanti.

Jam 9 pagi, saya udah tiba di BMC. Para bidannya kaget kok saya udah datang, padahal janjian untuk masuk jam 2 siang. Lalu saya ceritalah kalau saya udah mulai pendarahan lagi 🥲 Jadilah saya langsung dirawat (harus PCR dulu tentunya) dan dikasih obat untuk membuka jalan “lahir”.

Obat yang pertama dimasukkan lewat vagina. Ohhh inikah yang dinamakan “cek dalam” wkwkwk rasanya luar biasa sekali. Ternyata setelah dicek, obatnya belum memancing pembukaan. Akhirnya saya dikasih obat kedua yang oral dan, ya Allah, rasanya kontraksi tiap 5 menit sekali kayak mau lahiran (lah emang iya). Saya sampe remes tangan Abang kenceng-kenceng saking nggak kuatnya.

Masalahnya, waktu ngalamin itu semua, saya diharuskan puasa 6 jam sebelum tindakan. Jadi udahlah perut melilit, gerah, haus, tapi nggak bisa makan minum buat nambah energi. 🙈

(This is kind of nasty so you might want to skip this paragraph) Setelah sekian lama merasakan kontraksi gak beres-beres yang terasa seperti eternity, tiba-tiba… wrrrrr… darah mengucur deras dari bawah. Saya langsung ditangani bidan untuk cek pendarahannya, dan ternyata lumayan buanyaaak keluar gumpalan-gumpalan. Oh ternyata the medication worked. Setelah pendarahan itu, rasa mules saya perlahan-lahan mulai mereda.

Itu sekitar jam 4-5-an sore, sementara saya dijadwalkan untuk tindakan dan 8 malam. Nggak lama kemudian, saya kembali dikabari kalau tindakan dimajukan jadi 18.30 karena katanya, “Biar nggak usah kelamaan nunggu.”

Jujur, biusnya lebih bikin saya takut dibandingkan kuretnya sendiri haha. Di ruang tindakan, saya dipasangi oksigen dan EKG. Pertama, datang dokter anestesi. Dia dengan santainya nyuntikkin obat bius ke dalam infusan sambil ngajak saya ngobrol. Sambil dibius, saya masih sempet ngobrol sama dokternya dan ternyata dia juga yang ngasih saya anestesi spinal block saat saya ngelahirin Aksa via SC 3 tahun lalu haha. Terus, nggak lama dokter kandungannya datang dan saya bisa mendengar mesin EKG bunyi gara-gara saya deg-degan hahaha. Hal terakhir yang saya ingat adalah suster nyuruh saya angkat kaki, dan saya mikir, “Wah masih sadar aja nih gue.” Terus ternyata abis itu ilang hahaha.

Sekitar jam 8 kurang, saya terbangun. Rasanya kayak bangun dari tidur yang panjaaang… Jujur rasanya enak sih, kayak istirahat yang berkualitas gitu wkwk. Nggak lama, Abang pun datang dan saya lapar haha.

Setelah saya agak stabil, saya mulai nanya-nanya ke Abang tadi gimana. Jadi setelah dikeluarkan, Abang dipanggil dokter dan ditunjukkan janinnya. Alhamdulillah Adek keluar dalam keadaan utuh :”) Abang sempat melihat Adek untuk terakhir kalinya sebelum Adek ditutup kain dan dimasukkan ke dalam kendi. Kendinya kami kasih ke eyang-eyang untuk dimakamkan di rumah kami keesokan paginya.

Physically speaking, proses recovery sangat cepat. Beberapa jam tindakan saya sudah bisa jalan-jalan sendiri. Keesokan harinya jam 8 pagi, saya udah diperbolehkan pulang. Malah sebenarnya bisa nggak perlu nginap. Tapi karena pendarahan saya cukup banyak, saya disarankan untuk menginap agar bisa diobservasi.

Hidup dan mati memang kuasa Allah, dan selalu penuh dengan misteri. Saat saya tahu hamil, mana sangka kalau saya akan diberikan amanah lagi secepat itu, apalagi saya ada riwayat PCOS. Tapi ternyata Allah mengambilnya kembali dengan sangat cepat pula. Yang pasti meskipun singkat, Adek memberikan saya banyak pelajaran hidup; tentang memiliki, kehilangan, keikhlasan… And whenever I miss you, I could just go to our backyard and say hello. Because this is our home, and your home too…

Featured image from here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s