Beralih E-Book Reader dari Kindle ke Boox Poke 3

Halooo! Saya punya kabar buruk, sekaligus kabar baik. Apaan tuh? Penasaran gak? ๐Ÿ˜‚

Kabar buruknya adalah, Kindle Paperwhite saya yang sudah menemani semenjak 2015 akhirnya harus pensiun~. Gara-garanya saya juga nggak tahu, mungkin umur Kindle hanya segitu ya, sekitar 5-6 tahun? Karena punya Abang yang tipe Touch, sebelumnya juga rusak dan usianya lebih tua dari punya saya. Permasalahan yang dialami Kindle saya adalah, dia suka tiba-tiba nge-hang kalau lagi dipakai baca, dan satu-satunya cara untuk menyembuhkannya adalah hard restart. Terus, walaupun sudah di-charge penuh dan dalam kondisi off, baterainya somehow tetap kesedot sampai habis. Setelah diotak-atik berkali-kali, akhirnya saya memutuskan, baiklaaah, goodbye Kindle!

Lalu, kabar baiknya adalah, setelah mikir bolak-balik, baca dan nonton review, istikharah (nggak ding), dan diskusi sama Abang (karena dia juga akan ikut pakai), akhirnya kami memutuskan untuk beralih dari Kindle ke Onyx Boox. Yayyyy! Saya pakai tipe Poke 3. Dan setelah kurang lebih beberapa bulan memakainya, ini kira-kira review yang bisa saya kasih:

Ukuran

Ini saya membandingkan Boox Poke 3 dengan Kindle Paperwhite ya. Jadi mungkin sepanjang post ini saya akan membandingkan kedua tipe ini, karena cuma pernah pake dua e-reader ini. Dan tentunya, beda tipe pasti akan beda fitur dan ukuran. Secara display, memang Poke 3 ini lebih kecil dari Paperwhite, hanya 6 inch, tapi kalau udah dipakai, beneran nggak kerasa bedanya, kok. Secara berat, Poke 3 juga jauh lebih ringan dan tipis dari Paperwhite. Kadang megangnya juga suka takut sendiri, suka takut tiba-tiba jatuh atau patah hahaha. Tapi so far oke kok, meskipun ukurannya mini, sama sekali nggak memengaruhi kualitas bacaan.

Battery Life

Kalau lagi terhubung Wi-Fi, tentu saja jadi lebih boros. Jadi, saya perlu sering-sering matiin Wi-Fi kalau lagi nggak butuh untuk browsing atau download. Kalau saya bandingkan dengan Paperwhite, memang baterai Poke 3 ini lebih boros. Tapi jangan ngebayangin “boros” seperti handphone ya. Kalau pemakaian standar tanpa Wi-Fi, biasanya Paperwhite tahan dua minggu sampai di-charge ulang, sementara kalau Poke 3 paling hanya tahan seminggu. Tapi sebenarnya ini sebanding kok, karena fitur dan aplikasi yang digunakan juga lebih banyak.

Fitur & Apps

Untuk bagian ini, sebenarnya saya bingung mau bikin judul yang pas haha. Tapi ini salah satu hal yang bikin saya mantap untuk beralih ke Boox. E-reader ini berbasis Android dan yap, selayaknya ponsel Android, Boox ini bisa pakai third party app. Jadi saya tetap bisa download aplikasi Kindle di Boox dan isi library dari Kindle saya akan ter-import ke sini. Cool, huh?

Selain Kindle, saya juga sering pakai aplikasi Scribd karena langganan bulanan. Selebihnya sih ada beberapa aplikasi lain seperti Gramedia Digital dan iPusnas, tapi jarang banget dipakai. Dan enaknya karena pakai Wi-Fi, kalau misalkan saya baca buku di device lain di aplikasi yang sama (Kindle dan Scribd misalnya), saat mau baca di Boox, langsung ke-bookmark lokasi baca terakhir, jadi nggak perlu nyari-nyari lagi lokasinya.

Oh ya, Boox ini juga punya aplikasi baca bawaan, namanya Neo. Dia juga punya Neo Browser untuk browsing. Surprisingly, pakai Neo reader juga sebenarnya udah cukup enak, apalagi dia punya pengaturan yang menurut saya sangat detail; bisa rotate, ganti ukuran dan tipe font (walaupun standar), dan cukup nyaman kalau baca file PDF karena bisa di-set sesuai kebutuhan.

Fitur Lainnya

Bagian ini juga bingung mau mengkategorikannya jadi apa haha. Sebenernya sih memang tujuan utama beli Boox memang cuma buat baca (ya emang mau buat apa lagi ๐Ÿ˜‚), jadi saya sebenarnya agak kurang peduli sih sama hal-hal lainnya hahaha.

Oh ya, saya lupa bilang kalau Poke 3 ini e-ink ya, jadi memang pengalaman membacanya layaknya baca buku kertas (nggak berwarna). Untuk fitur standar lainnya, Poke 3 juga punya built-in light. Jadi bisa disesuaikan dengan lighting ruangan tempat kita membaca, dan saat membaca di outdoor.

Memang kalau dibandingkan sama Kindle, Boox ini punya lebih banyak fitur. Poke 3 ini punya beberapa speed/mode dan kualitas “kertas” untuk membaca. Dia punya empat pilihan mode: 1. Normal mode (untuk teks biasa), 2. Speed mode (ada sedikit ghosting effect, untuk teks yang ada gambarnya), 3. A2 mode (ghosting-nya lebih kentara, untuk buku yang banyak gambarnya), dan 4. X mode (ghosting-nya paling tinggi, untuk browsing dan nonton video).

Yes did I tell you, you can play videos on Boox??! ๐Ÿ˜€

Terus kalau sama Kindle, enakan mana? Sebenarnya masing-masing e-reader punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya sih nyaman-nyaman aja di keduanya. Dan lama-lama terbiasa juga kok dengan peralihan ini. Dan so far, nggak ada keluhan yang berarti. Semoga saja sih e-reader yang ini awet ya!

One thought on “Beralih E-Book Reader dari Kindle ke Boox Poke 3

  1. Haaai kak, pengguna boox poke 3 juga disini. Hihi. Aku pribadi langsung beli ini krn masih suka install ipusnas dan gramedia digital. Semoga awet ya kak device-nya biar ttp menikmati baca buku ๐Ÿ˜€

    Like

Leave a Reply to Lulu Khodijah Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s