Photo by Sincerely Media on Unsplash

Cerita (Drama) Kehamilan Kedua

Yes, I’m pregnant with our second child! Alhamdulillah. Saat ini usia kandungan udah mau memasuki 11 minggu. Doakan kami sehat selalu, ya!

Eitsss… tapi tentu saja, nggak seru kalau kehamilan kedua ini tanpa drama ๐Ÿ˜‚

Hamil dengan PCOS

Teman-teman yang baca post saya dari dulu mungkin masih ingat bahwa saya hamil Aksa (anak pertama) menjelang satu tahun setengah usia pernikahan. Mungkin saya bisa dikatakan cukup beruntung, jika dibandingkan pasangan-pasangan lain yang menunggu jauh lebih lama. Namun, dulu lumayan bikin kepikiran, terutama karena norma sosial yang menekan saya untuk segera memiliki anak tak lama setelah menikah ๐Ÿฅฒ

Jadi sebenarnya, kepikiran karena omongan orang untuk segera hamil lebih bikin saya stres hahaha. Jadi memasuki usia pernikahan lebih dari 6 bulan, saya dan Abang coba konsultasi ke dokter. Dari sanalah saya didiagnosis punya PCOS (please Google it!). Intinya, PCOS terjadi dikarenakan hormon androgen (hormon laki-laki) saya yang lebih tinggi dari semestinya yang bikin keseimbangan hormon di dalam tubuh jadi kacau. Makanya waktu itu saya kayak langsung ngeh kenapa saya jerawatan nggak hilang-hilang hahaha.

PCOS bisa hamil? Bisa! Memang kondisi ini gak ada obatnya (sejauh yang saya tahu), tapi bisa dikendalikan dengan menjaga pola makan, jaga kesehatan fisik dan mental, jaga berat badan ideal. Itu sih yang saya dapatkan dulu dari dokter yang mendiagnosis saya dengan PCOS.

Tapi memang, rencana Allah selalu indah. Saat justru saya dan Abang sudah mengikhlaskan kepada Yang Maha Kuasa, karena kami capek dan merasa ngejar ‘target’, a miracle happened. Saya hamil anak pertama justru saat saya sudah lepas vitamin dan konsultasi dokter. Dan justru saat saya sudah mengikhlaskan itulah, Allah memberikan jawaban.

Berbekal pengalaman itulah, saat Aksa lahir, saya berpikir saya tidak ingin pakai KB. Bukan karena apa-apa, ini lebih kepada kebutuhan praktis aja hahaha. Jadi untuk kehamilan kedua ini sebenarnya antara direncanakan atau tidak ๐Ÿ˜€ Karena jujur agak kaget juga (sekaligus senang) karena despite my condition, I can get pregnant again for the second time.

Jadi pada intinya, saya ingin berbagi bahwa we all have hope. Even in your darkest time and when you think it will not happen, insya Allah akan selalu ada jalan. Mungkin bagi saya, saya hanya butuh sedikit intervensi di awal. Juga ada yang membutuhkan intervensi medis lebih lama. But, don’t give up hope.

Hamil Kedua vs. Hamil Pertama

Memang yaa, rasanya nggak bisa dibandingin. Walaupun ada gejala yang sama, kehamilan yang sekarang kerasa banget bedanya sama waktu hamil Aksa dulu.

Sekarang saya merasa jauh lebih mual, dan mual itu terjadi antara waktu sore sampai malam hari. Jadi, kalau udah lewat jam empat sore, susah banget makan walaupun perut keroncongan ๐Ÿ˜“ Meskipun gitu, muntah-muntahnya jarang heboh sih. Kalau hamil Aksa dulu, saya nggak gitu mual, tapi juga nggak mau makan samsek. Jarang banget ngidam juga.

Sekarang masih mending ada nafsu makan, walaupun keinginannya aneh-aneh. Pernah suatu hari saya pengen banget minum Teh Botol dingin, padahal udah bertahun-tahun kayaknya nggak pernah minum. Sampe ditanyain Abang pas saya pesen, “Ini Teh Botol bonus apa gimana?”

Lalu, ada cerita juga suatu siang saya kepengen banget makan kurma. Saya sampe nanya ke Mama ada yang jualan gak di sekitar rumahnya, dan beneran dicariin ke tetangganya yang jualan, kemudian dikirim pakai ojol :”) pas nyampe rumah sih cuma dimakan dua biji hahaha. Kata Abang, “Itu namanya ngidam!” Aslik, saya kurang familiar banget sama ngidam ini karena dulu pas hamil Aksa nggak gini gini amat ๐Ÿคฃ

Oh ya, yang bener-bener sama dari kehamilan pertama adalah saya kembali mengalami spotting. Di cerita ini saya nulis waktu hamil Aksa, saya sampai istirahat 3 minggu karena nggak boleh capek-capek. Dan kemudian ini kejadian lagi pas kehamilan kedua.


Makanya pas telat haid dan test pack positif, saya langsung ajak Abang ke SPOG untuk mengantisipasi dan dikasih penguat kandungan. Dan bener aja, beberapa hari kemudian, saya spotting :”) Saat cek dokter kedua kalinya, akhirnya dosisnya ditambah sama dokter. Mudah-mudahan dikuatkan yaa.

Bloody Show

Minggu pagi, 11 April 2021, tiba-tiba saya mengalami pendarahan. Berbeda dari sebelum-sebelumnya yang hanya flek, ini benar-benar darah segar. Saya akhirnya diantar ke IGD bersama Abang ke RS BMC Mayapada. Sebelumnya kami sempat mampir ke rumah Enin untuk nitipin Aksa, karena roman-romannya saya harus dirawat.

Sampai di IGD, saya langsung ditangani bidan. Dan untungnya pelayanannya cepet, jadi bidannya langsung telepon SPOG dan saya langsung diminta untuk rawat inap dan tes laboratorium. Bahkan di hari Minggu, dokternya bersedia datang untuk cek USG huhu terharu ๐Ÿ˜ญ

Sebelum masuk kamar rawat, tentu saja saya harus tes PCR, bersama dengan Abang yang juga harus ikut tes. Jadi saya nggak boleh digantiin jaga. Tahu nggak yang saya pikirkan apa? Tentu sajaa mikirin Aksa. Gimana tidurnya, makannya, mainnya, tanpa Ayah Mama huhu. Untungnya Enin meyakinkan that he’ll be fine. Jadi saya mencoba mengikhlaskan.

Malamnya, saya dipanggil ke poliklinik untuk cek USG dengan dokter. Sumpah diperiksanya lamaaaa banget. Dokternya ngeklik-klik alat USG berkali-kali tapi nggak ngomong apa-apa. Tegang banget lah itu hahaha.

Selesai pemeriksaan, akhirnya dokter bilang bahwa secara perkembangan, janinnya berkembang dengan baik. Katanya pendarahan terjadi karena ada pembekuan darah di rahim (hematoma). Entahlah kenapa itu bisa sampai terjadi, tapi dokter meyakinkan everything’s will be alright. Saat kontrol sebelumnya saat usia 6 minggu, saya masih dibilang abortus imminens (ancaman keguguran). Tapi melihat penyebabnya dan melihat perkembangan janin, dokternya memastikan bahwa faktor itu bisa disingkirkan. Alhamdulillah.

Walaupun saat ini saya sudah pulang dari RS, saya tetap harus bed rest sampai benar-benar bersih (tidak ada flek/darah). Jadi sudah seminggu ini saya tergeletak di atas kasur, kecuali me kamar mandi. Makan, minum, segala macam semua dari kasur! Hahaha.

Syukuri sajalah apapun yang terjadi. Insya Allah akan ada kemudahan ke depannya. Aamiin.

2 thoughts on “Cerita (Drama) Kehamilan Kedua

  1. Salam kenal Mbak Fadilla. Senang sekali baca curhatnya. Semoga kandungannya Allah kuatkan dan bisa lahir dengan selamat Ibu dan debay nanti. Saya sebagai yang nikah sudah 3 tahun dan belum dikaruniai momongan selalu takjub sama cerita kehamilan. Saya juga sudah merasakan keguguran di tahun ke 3 pernikahan ini, dan rasanya memang harus ikhlas sekali. Punya Allah, kembali ke Allah. Semoga kandungan mbak selalu sehat ya, ikut tegang pas baca part spottingnya tadi. Syukurlah hanya pembekuan darah ternyata.

    Like

    • Halo Mbak, terima kasih ya sudah mampir. Turut berduka atas kegugurannya ya Mbak, kehamilan kedua saya juga akhirnya berujung keguguran di usia 3 bulan (ceritanya ada di blogpost selanjutnya ๐Ÿ™‚) Insya Allah ikhlas, Mbak juga semoga selalu dikuatkan ya ๐Ÿ™‚

      Like

Leave a Reply to Indah Rahayu Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s