#Modyarhood Menjadi Orangtua: Idealisme vs. Realitas

Pada suatu hari, saya lagi menyuapi anak saya, Aksara, yang waktu itu baru mulai MPASI. Waktu itu saya sudah menyiapkan suasana makan sedemikian rupa, seperti yang saya baca-baca di buku parenting: anak nggak dalam keadaan mengantuk, anak duduk sendiri, nggak ada distraksi, dan anak disuapi. Pas mau disuapi… Eh, anaknya nggak mau. Yang ada anaknya ngambek, saya ikutan ngambek. Dicoba lagi, tetap nggak bisa.

Akhirnya… Dengan berat hati saya nyalain TV dan pasang channel khusus bayi. Kemudian… Anaknya mau makan! Lahap, habis pula.

Malamnya, saya bilang ke Abang (suami), “Runtuhlah sudah idealisme aku.”

Siapa juga pernah mengalami, cuuung? ๐Ÿ™‹

Yha, jadi orangtua pada praktiknya memang tidak semudah teori. Pas waktu hamil sih gampang, memantapkan hati, “Pokoknya anak gue nggak boleh gini, pokoknya nanti anak gue harus gitu.”

Nyatanya? :)))

Kisah di atas cuma sekelumit dari inkonsistensi-inkonsistensi saya dan suami yang lagi sama-sama belajar jadi orangtua. Bukan untuk membuka aib, betul seperti yang dibilang Mbak Puty, tapi sekadar menjadi pengingat bahwa kita tidak harus menjadi orangtua yang sempurna, tetapi menjadi orangtua yang memahami dan memenuhi kebutuhan anaknya.

1. MPASI homemade vs. instan

Dari sebelum masa MPASI, saya sudah mulai baca-baca gimana mempersiapkan MPASI yang padat gizi sekaligus enak buat anak. Saya juga sudah mempersiapkan segala bahan makanan segar, alat masak, buku resep, dan lain sebagainya untuk memudahkan proses memasak.

Tapi, dari pengalaman itu juga saya belajar bahwa: nggak perlu anti sama yang namanya MPASI instan, meskipun MPASI rumahan memang yang terbaik. Baik itu karena kaya rasa, kaya tekstur, dan tentunya dibuat dengan penuh cinta. Sedap.

Selama masa MPASI juga sudah nggak kehitung berapa kali saya kasih bubur instan ke Aksara, terutama kalau lagi harus bepergian. Meskipun saya tahu MPASI instan/fortifikasi kandungan gizinya nggak kalah baiknya dari MPASI homemade (karena itu tadi, udah terfortifikasi), tetap saja kadang saya masih suka merasa bersalah. Mungkin lebih merasa bersalah karena nggak punya waktu masak untuk anak ๐Ÿ˜”

2. Makan tanpa distraksi

Seperti yang saya ceritakan di atas, runtuhlah idealisme saya dalam memberikan makan pada anak. Yang tadinya nggak boleh sambil ina inu, sekarang: mau sambil apa aja terserah, yang penting makannya masuk ๐Ÿ˜‹

Semua bermula dari kejadian makan boleh sambil nonton TV itu, yang akhirnya keterusan. Nggak melulu nonton TV, tapi Aksara harus sambil beraktivitas kalau lagi makan. Entah itu pegang mainan, nonton TV, digendong, jalan-jalan, liatin gukguk, apa aja, yang penting lahap.

Salah satu kebiasaan yang lagi saya ajarkan akhir-akhir ini adalah makan bareng semeja dengan saya dan Abang. Aksara juga mulai saya ajari makan finger food sendiri, sambil saya suapi juga. Cukup berhasil, walaupun ujung-ujungnya, makanan belum habis dia sudah bosan. Solusinya? Ajak jalan-jalan lagi :))

3. Duduk di car seat

Kalau baca-baca, dari baru lahir, bayi seharusnya duduk sendiri di car seat karena faktor keamanan. Bahkan beberapa negara memberlakukan peraturan kalau bayi sampai anak usia tertentu wajib duduk di car seat.

Sedari hamil, saya juga kepingin banget beliin Aksara car seat, tapi belum nemu model yang pas. Selain itu, harganya juga mayan yaa, seharga stroller hahaha.

Akhirnya, saya baru mulai konsisten dudukin Aksara di car seat semenjak dia usia 6 bulan. Itu juga car seat-nya pinjam punya sepupunya Aksara yang udah outgrow the car seat. *mama ekonomis*

Tapi kadang-kadang, saya juga nggak selalu ngedudukin Aksara di car seat, terutama kalau saya lagi pergi bareng nanny-nya Aksara. Pertimbangannya selain karena ruang duduknya nggak cukup (mobil mungil, sis), juga kalau pegal bisa ganti-gantian pangku hehehe. Jangan ditiru, ya! Sebenarnya alasan lain susah ngedudukin Aksara di car seat tuh kalau dia lagi manja, maunya nempel terus. Didudukin sebentar, langsung minta gendong. Atuhlah ibu mana yang nggak menyerah anaknya gitu. Mudah-mudahan sih ke depannya bisa lebih konsisten. Biar anak aman, Mama pun nyaman.

4. Genderless Toys/Clothes

Ahahaha. Berbekal latar belakang saya yang kerja di isu gender, dari dulu saya niat: pokoknya anak saya nanti bebas mau dipakein baju apa aja, bebas mau main apa aja. Nggak boleh dilarang-larang.

Nyatanya? :)))

Beliin baju pink buat anak cowok aja belum pernah sistaaa. Hahaha. Rata-rata isi lemarinya Aksara warna bajunya itu-ituuu aja. Mau pakein baju bunga-bunga tapi entar gimana gitu. Mau beliin mainan yang agak girly dikit, Mama mikir-mikir dulu. Duh, memang social pressure itu sangat berat ya :))

5. ASI vs. sufor

Ini juga dari masa kehamilan saya sudah niat, seberat dan sesusah apapun, saya akan berusaha untuk ngasih ASI ke Aksara sampai usia 2 tahun. Tapi memang niat saja tidak cukup, pemirsa.

Jadi ceritanya, waktu usia satu minggu, Aksara harus masuk rumah sakit lagi karena jaundice (kuning). Sementara saya tinggal di rumah. Jadi ibu baru, gimana nggak stres harus kepisah sama anak, mana ASI belum banyak, mana saya juga masih dalam masa penyembuhan pascaoperasi.

Setiap 2-3 jam, saya pumping ASIP untuk dikirim ke rumah sakit. Tapi dasar Aksara anaknya maruk, susu Mama nggak cukup-cukup. Akhirnya dia kelaparan. Aduuuh sedih banget rasanya. Akhirnya pada suatu saat, saya dan Abang memutuskan: kalau ASIP-nya nggak cukup, kami mengizinkan Aksara dikasih sufor.

Rasanya? Sedih :))) Tapi, lega juga. Kami rasa, kami nggak harus selalu kekeuh dengan idealisme dalam pengasuhan anak. Kompromi. Intinya, kompromi pada situasi. Mau maksain kasih ASIP sebenarnya bisa aja, tapi Aksara bakal kelaparan karena susu Mama nggak datang-datang (harus dikirim dari rumah ke RS). Untungnya, suster di rumah sakit pun sangat bisa diandalkan. Mereka nggak bakal kasih sufor selama cadangan ASIP saya masih ada. Dan mereka melaporkan berapa ml yang diberikan pada Aksara setiap minum. Alhamdulillah, sampai pulang ke rumah, nggak sampai 100 ml sufor yang diberikan.

Akhirnya, keinginan untuk ngasih ASI eksklusif pun buyar. Walaupun setelah jaundice itu sampai saat ini Aksara cuma minum ASI dengan direct breastfeeding, tetap aja judulnya bukan ASI eksklusif, karena sudah kena sufor walaupun seuprit ๐Ÿ˜Š

Tapi saya yakin, nggak ada yang salah sama pemberian sufor selama ada indikasi medis/izin dokter anak. Bukankah seharusnya kita bersyukur, di saat seorang ibu sedang nggak mampu memberikan ASI secara maksimal, ada sufor yang bisa (walaupun nggak 100%) menggantikannya? Sufor nggak jelek kok, tapi memang ASI-lah yang terbaik.

Jadi gimana, ibu-ibu bapak-bapak? Yap, inti dari post ini adalah, nggak apa-apa kok membuat kesalahan jadi orangtua. Nggak apa-apa kok sesekali nggak konsisten. Parenting is a learning that we are doing for the rest of our lives. Intinya, dari inkonsistensi itu kita terus belajar mencari cara yang terbaik dalam pengasuhan. Betuuul?

Oh iya, baca post #Modyarhood Mbak Puty dan Mbak Okke juga, ya!

Featured image from here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s