6 Komentar yang (Sebaiknya) Dihindari Pada Ibu Hamil

Halooo! Ini akan jadi post pertama saya di tahun 2019. Duh, ke mana aja deh? Dan post di tahun 2019 ini akan dibuka oleh tulisan saya yang udah lama jadi draft tapi nggak jadi melulu di-post.

Post ini adalah salah satu unek-unek saya ketika hamil dulu. Semoga belum basi 😀

Masa-masa hamil adalah pengalaman nggak terlupakan bagi saya. Banyak cerita dan pengalaman, terutama ketika orang-orang mulai menyadari keadaan tubuh saya. Terinspirasi dari artikel The Every Mom yang saya baca tentang hal-hal nggak penting yang sebaiknya nggak diucapkan pada ibu hamil, saya jadi gatal pengen bikin list sendiri terkait komentar-komentar apa saja yang sering saya dapatkan saat hamil. Komentarnya mulai dari yang biasa aja, mildly annoying, sampai wildly annoying hahaha.

Intinya sih cuma mau mengingatkan, juga mengingatkan diri saya sendiri tentunya, bahwa being pregnant itself is already difficult. Jadi, dengan menghindari komentar-komentar ini pada ibu hamil, mungkin kita bisa sedikit membantunya untuk tidak menambah daftar hal yang perlu dipikirkannya. Setujuuu?

1. “Kamu lagi hamil tapi badannya segitu-segitu aja” / “Mulai gendutan/bengkak ya”

Selama hamil, berat badan saya naik 12 kilo loh. Jadi, badan saya nggak segitu-segitu aja :”) Mungkin maksudnya baik, seperti menghibur kalau badan saya nggak gendutan karena hamil. Tapi saya rasa hal itu nggak perlu untuk diucapkan… karena memang badan saya nggak ‘segitu-segitu aja’.

Sebaliknya, ada juga yang bilang kalau tangan saya lebih besar lah, kaki saya bengkak lah. Well, wasn’t that obvious? I was carrying a whole new body inside me 🙂

2. “Pakai KB ya?” / “Kenapa baru sekarang?” / “Alhamdulillah, akhirnya”

Jawabannya adalah karena Allah baru ngasih jawaban sekarang. Saya memang nggak langsung hamil setelah menikah. Malah, setahun lebih saya dan suami menunggu sampai akhirnya kami mendapatkan kabar baik itu. Tapi bukan berarti kami nggak berusaha. Jadi menurut saya hal tersebut nggak perlu dikomentari, terutama karena perjalanan dan perjuangan setiap pasangan berbeda-beda 🙂

Sedikit tips dari saya: kalau nggak diminta secara langsung/personal, nggak perlu mendoakan pasangan untuk segera punya momongan, apalagi di depan orangnya langsung. Karena siapa tahu mereka memang nggak mau disegerakan, nggak mau punya anak, atau mau tapi malah jadi makin kepikiran karena merasa ‘ditekan’. So, staying away from that topic is a wise choice unless they bring it up first.

3. “Dokternya cowok? Aku sih nggak nyaman…”

Iya, dokter kandungan saya laki-laki, and I was fine with it. Saya beberapa kali merasa ‘dipojokkan’ dalam suatu percakapan ketika bilang kalau dokter kandungan saya laki-laki. Bahkan ada yang sampai bilang, “Nanti kamu lahiran sama dia? Kamu emang nggak apa-apa?” Ya, gak papa sih… kenapa harus kenapa-napa 🙂 Kalau ada yang merasa nggak nyaman, saya hargai pilihannya, tapi saya juga berhak dong dihargai pilihannya. Semua itu adalah preferensi masing-masing orang, jadi menurut saya percakapan semacam itu tidak perlu terjadi.

4. “Beratnya berapa sekarang?”

Ini sering banget. Nggak usah saya bahas lah ya. Hahaha.

5. “Bayinya berapa kilo? (yang dilanjutkan dengan) “Oh, kecil ya.”

Duuuuuh, namanya juga lagi hamil, Ferguso. Kalau anaknya gede namanya udah remaja. Kenaikan berat badan bayi di dalam kandungan memang paling signifikan di bulan-bulan terakhir saat bayi mulai membentuk lemak dalam tubuhnya. Jadi ya jangan heran kalau kandungan 7 bulan bayinya baru 1 koma sekian kilogram, karena itu hal yang normal 🙂

6. “Kenapa resign?” / “Kamu mau tetap kerja?”

Memang, banyak perempuan di luar sana yang masih tetap aktif bekerja meskipun hamil, bahkan sampai menjelang persalinan, apalagi kalau sebelumnya udah punya anak juga. Tapi seperti banyak orang bilang, kondisi kehamilan tiap orang berbeda-beda. Jadi, rasanya pilihan saya yang (waktu itu) memutuskan untuk berhenti bekerja tidak perlu dipertanyakan. Apalagi kalau ada yang sampai heran, masa karena hamil harus giving up my career. Intinya sih not everyone needs to know what I was up to. Toh keputusan ini sangat pribadi dan nggak memberikan dampak apa-apa pada orang lain yang berkomentar 🙂

Sebaliknya… kalau ibu hamil tetap mau kerja setelah melahirkan, kok ya tetap aja dipertanyakan gitu. Mau ini salah, itu salah, ujung-ujungnya 🙂

So, what’s acceptable?

Bagi saya pribadi nih ya… Dibandingkan komentarin tentang bentuk atau berat tubuh seorang ibu hamil, pilihan-pilihan yang si ibu buat, dan tetek bengeknya, saya lebih suka kalau diajak sharing tentang proses kehamilan atau persalinan itu sendiri. Misalnya:

  • Sudah belanja perlengkapan bayi apa saja
  • Perlengkapan lain yang dibutuhkan (untuk jadi kado)
  • Lahiran mau di mana
  • Kondisi kesehatan bayinya
  • Kondisi kesehatan ibunya
  • Pengalaman-pengalaman selama hamil (mual, susah tidur, dll)

Intinya sih sebenarnya banyak banget kok hal lain yang bisa dibicarakan selain tentang kondisi fisik yang sudah pasti berubah, yaitu percakapan yang lebih meaningful dan menguatkan. Dan balik lagi tadi, karena kondisi kehamilan berbeda-beda dan pilihan setiap orang yang berbeda-beda, jadi nggak perlu lah ada perdebatan dokter perempuan/laki-laki, kerja/stay-at-home, seterusnya. Karena yang namanya ibu dan setiap orang pasti yang paling tahu yang terbaik untuk dirinya dan anaknya. Jadiii, yuk mari kita ngomongin yang hepi-hepi daripada yang bikin keki!

 

 

 

Featured image from here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s