Goodreads Reading Challenge 2018 Completed + Fave Fiction Books

Semenjak 2013 saya selalu ikutan Goodreads Reading Challenge, di mana setiap tahunnya saya nge-set berapa banyak jumlah buku yang ingin saya baca selama setahun.

Meskipun dari tahun ke tahun jumlahnya menurun (guilty :p), tapi saya merasa kalau kualitas buku yang saya baca meningkat. Boleh dong narsis dikit haha. Tahun ini, Alhamdulillah, target saya tercapai lagi, yaitu membaca 22 buku setahun! Pencapaian saya justru kelebihan malah, karena saya berhasil baca 23 buku sampai hari ini, dan masih ada satu buku yang sedang saya baca.

Daaan… Di bawah ini adalah beberapa buku fiksi favorit pilihan saya yang saya baca di tahun 2018 ini.

1. Convenience Store Woman

http://www.amazon.es

Plot: Keiko berusia 36 tahun. Dari kecil, orangtuanya beranggapan kalau dia adalah seorang anak yang ‘aneh’. Keiko tidak bisa bersosialisasi seperti apa yang dianggap ‘normal’ oleh masyarakat. Di usianya yang ke-18, Keiko mendapat pekerjaan di sebuah minimarket. 18 tahun kemudian, Keiko masih berada dalam pekerjaan yang sama, single, dan tidak punya banyak teman. Menurutnya, hidup menjadi pegawai minimarket mudah karena tinggal mengikuti SOP. Sementara di dunia nyata, Keiko seperti kehilangan ‘pegangan’ untuk menjalani hidup yang seperti diharapkan orang-orang di sekitarnya.

My comments: Buku ini adalah buku yang paling membekas yang saya baca di tahun 2018. Kalau ibarat air, buku ini tuh tenang…. banget. Nggak terburu-buru. Konfliknya nggak meluap-luap. Tokoh protagonisnya sangat stand out. Dan bukunya cukup singkat untuk dibaca. Untuk teman-teman yang mau membaca buku yang idyllic, this books is your perfect choice. Oh iya, ini buku terjemahan dari Bahasa Jepang ke Bahasa Inggris.

2. Eleanor Oliphant is Completely Fine

https://prestigebookshop.com/

Plot: Eleanor Oliphant menjalani kehidupan sehari-hari yang biasa saja. Dia bekerja, pulang ke apartemennya, dan tidak memiliki satu orang teman pun. Kesulitannya untuk berinteraksi dengan orang membuatnya hidup ‘terisolasi’ dan lebih memilih menghabiskan weekend sendirian dengan pizza dan vodka di apartemennya. Kemudian, Eleanor bertemu dengan Raymond, rekan sekantornya yang baru. Secara nggak sengaja, mereka menyelamatkan Sammy, lelaki paruh baya yang tiba-tiba terjatuh di jalan. Perkenalan itu ternyata membuat sebuah hubungan ‘aneh’ di antara ketiganya, namun membuat Eleanor belajar untuk membuka dirinya pada orang lain dan memiliki support system.

My comments: Meskipun gaya penulisan buku ini ‘pop’ banget, buku ini bagi saya mengajarkan banyak hal. Believe it or not. Reading this book broke my heart. Saya bisa sangat merasakan rasa kesepian Eleanor. Saya sangat bisa menyelami diri Eleanor yang berjuang melawan masa lalunya. Saya memahami bagaimana Eleanor berjuang untuk membuka dirinya agar bisa survive dari trauma yang pernah dialaminya. Bagi teman-teman yang mau baca buku chicklit tapi nggak mau baca tentang cinta-cintaan melulu, buku ini wajib untuk dibaca. Dengar-dengar buku ini juga bakal segera dijadiin film 🙂

3. Where’d You Go, Bernadette?

https://www.amazon.co.uk

Plot: Bernadette Fox is not your typical mom. Bernadette adalah seorang arsitek jenius yang memutuskan untuk ‘pensiun’. Dia tidak terbiasa berinteraksi dengan orang di sekitarnya dan justru kadang merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Bahkan saking sebalnya dan malasnya berinteraksi, Bernadette punya seorang asisten pribadi yang berbasis di India!

Bernadette punya seorang anak bernama Bee yang berusia 15 tahun. Bee mengajaknya dan ayahnya untuk nge-trip ke Antartika saat liburan sekolah. Tapi, beberapa hari sebelum berangkat, Bernadette hilang tanpa meninggalkan jejak. Bee pun bertekad untuk menemukan ibunya.

My comments: Lagi-lagi buku ini adalah buku yang bercerita tentang tokoh yang socially awkward dengan kehidupannya yang absurd. Tapi, saya justru sangat menikmatinya. Baca buku ini rasanya fresh banget karena plot dan penokohannya sangat original. Gaya penulisannya pun nggak biasa. Alih-alih menulis dengan narasi yang mengalir, buku ini justru disajikan dengan beragam bentuk tulisan, seperti email, surat, notes, surat kabar, sampai transkrip sebuah speech! Somehow, kesemuanya menjadi kesatuan cerita yang utuh dan nggak terkesan loncat-loncat.

Kalau dilihat-lihat, ketiga buku di atas punya persamaan: karakter tokoh utama yang nggak biasa, malah kadang nyeleneh. Ketiganya nggak terpaku pada stereotipe perempuan modern, mapan, cantik yang sering ditemui di banyak novel chicklit, yang mungkin menjadi alasan kenapa saya terpikat pada ketiga buku tersebut.

Oh iya full list buku-buku yang saya baca di tahun 2018 ini bisa dilihat di sini.

Kalau teman-teman gimana, apa ada buku favorit yang dibaca di tahun 2018 ini?

Featured image from here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s