Kisah Meng-ASI-hi #1 – Expressing Breastmilk

Belakangan ini, saya lagi menikmati masa-masa menyusui. Bukan berarti tanpa drama sih, tapi mungkin karena udah mulai terbiasa aja kali ya. Saya juga mulai nampung ASIP sedikit-sedikit karena… saya mulai kembali bekerja (dari rumah!) haha. Nanti saya ceritakan di post lainnya deh, intinya saya dapat privilege bisa kerja remote dari rumah, dan cuma meeting sesekali aja ke Jakarta. Untuk itu, saya mulai modal ASIP untuk Aksara, jaga-jaga kalau harus saya tinggal.

Untuk punya ASIP, tentunya harus modal breastpump. Walaupun saya nggak nyangka akan kembali kerja secepat ini, saya udah mempersiapkan breastpump dari masa kehamilan.

Kenapa harus modal breastpump kalau nggak kerja? Tentu dong, misalnya aja anak masih tidur, tapi payudara udah penuh. Daripada bengkak, harus dikeluarin pakai breastpump. Atau kalau lagi mau me time pijet-pijet lucu dan ninggalin anak beberapa jam, stok ASIP udah pasti wajib.

Jujur sebenarnya agak tricky pumping di rumah pas bareng anak. Kadang lagi mau pumping, eh tau-tau dia bangun minta nenen. Atau mau pumping abis nenenin, eh nggak dapet banyak karena udah dihabisin duluan. Hadeuh.

Jadinya sekarang saya triknya adalah nge-spread waktu pumping jadi beberapa kali sehari, berapapun dapatnya. Hasil perahannya saya taruh di botol kaca dan ditaruh di kulkas bagian bawah sebelum dimasukin freezer. Nah, terus si alat pumping-nya (karena saya males steril hoho), saya masukin ke kantong kedap udara, masukin ke dalam lemari es, biar bisa langsung dipakai untuk pumping berikutnya (selama masih dalam waktu 24 jam).

ASIP yang diperah berikutnya saya taruh di botol kaca lagi, saya masukin kulkas lagi. Setelah suhunya sama dengan ASIP sebelumnya, baru saya satukan ke kantong ASIP dan disimpan di freezer. Selama di-pump dalam waktu 24 jam yang sama, ASI boleh disatukan. Lumayan menghemat kantong ASIP juga loh daripada diisi cuma sedikit-sedikit. Trik ini saya dapatkan dari kakak ipar saya, and it works well with me 🙂

Untuk bisa dapetin ASIP tentunya harus ada alatnya, dong. Jujur saya nggak tahan kalau pompa pake tangan. Selain pegel, payudara juga cepet sakit. Kayaknya saya masih salah deh tekniknya huhu. Nah, karena saya ketergantungan banget sama breastpump, di post ini saya mau review beberapa breastpump yang udah pernah saya cobain, siapa tahu berguna bagi buibu yang lagi nyari breastpump.

Philips Avent Manual Breastpump

https://www.philips.co.id/

Ini satu-satunya breastpump yang saya beli, dengan pertimbangan waktu itu saya kan lagi nggak bekerja, jadi rasanya pakai yang manual aja cukup. Dan lagi saya takut rugi kalau beli yang elektrik terus nggak cocok dan nggak kepakai. *ogah rugi*

Philips Avent ini menurut saya enak dan let down reflex-nya cepat. Awalnya memang agak linu sedikit, apalagi buat new mom seperti saya yang baru belajar pumping. Tapi rasa linunya paling cuma beberapa detik aja, dan setelah itu langsung deras. Dan Philips Avent ini kalau sudah LDR malah nggak kerasa sakit sama sekali, bahkan nggak kerasa kayak lagi dipompa. Dan karena breastpump manual, tentu aja printilannya cuma sedikit, jadi enak kalau dibawa ke mana-mana.

Kekurangannya tentu aja… Pegal! Juga, breastpump ini pakai botolnya yang leher lebar, jadi nggak bisa diganti-ganti sama botol lain yang ukurannya standar. Oh iya, karena saya suka banget merhatiin detail, si Philips Avent ini agak susah dilihat apakah si ASI masih ngalir atau nggak karena corongnya suka jadi buram kalau udah kena ASI.

Pigeon Silent Electric Breastpump

http://www.babycloset.pk

Oh ya tentu saja saya nggak beli, karena ini dipinjamin kakak ipar saya haha. Pertama kali pakai ini saya langsung cocok! Enak banget! Tentunya nggak pegal karena tinggal ngeliatin ASI-nya ngalir sendiri ke dalam botol. Alatnya pun gampang dipakainya, sekali diajarin langsung fasih. Dan katanya sih bisa pakai baterai juga, cuma saya belum coba.

Kekurangannya… Paling agak rempong aja kalau dibawa ke mana-mana karena printilannya yang banyak. Dan kalau saya bandingin sama Philips Avent, LDR-nya lebih lama. Kebalikannya dari Avent, si Pigeon ini kalau lama dipakai justru makin bikin linu, jadi speed sama suction-nya harus sering-sering diturunin.

Mooimom Silicone Breastpump

http://www.babyzania.com

Seperti kata orang-orang, ini lebih cocok dibilang sebagai milk holder daripada breastpump. Buibu suka kan lagi nyusuin anak atau lagi pumping, tahu-tahu payudara sebelahnya rembes? Nah, itulah kegunaan si silicone breastpump ini. Tinggal tempelin di payudara, terus tetesannya bakal ketampung. Lumayan banget loh ngumpulin tetes demi tetes ASI, daripada kebuang, ya kan?

Kapasitas breastpump-nya sendiri bisa sampai 100ml, cuma dari review yang saya baca, sebenarnya 70ml pun udah penuh. Tapi saya belun pernah sih sampai sebanyak itu. Kekurangan lainnya adalah, gampang copot! Saya nggak tahu sih, mungkin sayanya aja yang kurang kenceng masangnya. Tapi kalau kekencengan, linu! Hadeuh. Sebenarnya cukup helpful kok alat ini, dan harganya jauh lebih murah dibanding breastpump lain 😀

Oh iya, saya ada satu breastpump lagi, yang mana dipinjemin sama ipar saya juga haha. Yang ini merk Medela. Cuma karena silikon corongnya nggak ada, saya belum pernah coba. Nanti pankapan saya update kalau udah nyoba yaa.

Perjalanan menyusui tentunya masih panjang. Mudah-mudahan saya bisa konsisten dan nyusuin Aksara sampai 2 tahun. Aamiin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s