Satu Bulan Bersama Aksara

Nggak kerasa ya (boong ding, kerasa banget kok haha) Aksara udah menginjak usia 1 bulan. Yeaay senangnya! Ritme kesehariannya udah mulai kelihatan dan established. Saya juga udah mulai terbiasa jadi seorang ibu yang tiap malam bangun netekin anak hahaha. Tapi selain itu, ada beberapa cerita lain yang mau saya bagikan selama 1 bulan kehidupan Aksara di dunia ini.

Tentang Jaundice (Kuning)

Tiga hari di rumah sakit, Aksara dinyatakan udah boleh pulang. Alhamdulillah Aksara sehat, bahkan tingkat bilirubinnya pun lumayan rendah, 9.3 waktu itu, karena maksimalnya 12. Saya hepi banget dong karena Aksara nggak perlu disinar.

Dua hari pulang ke rumah, di usianya yang keenam hari, Aksara kontrol ke dokter anak. Setelah dicek, ternyata Aksara agak sedikit kuning. Jadilah dia disarankan untuk tes lab dan ternyata bilirubinnya naik hingga 14.2. Aduuhhh sedih banget rasanya ๐Ÿ˜ฆ Apalagi pas tahu kalau Aksara harus tinggal di RS. Saya sampai nggak tega ninggalin dia sendirian di RS huhu.

Karena saya di rumah, otomatis saya harus pompa untuk ngasih ASI ke dia. Lumayan bikin stres karena harus pumping tiap 3 jam sekali dan ngirim ke rumah sakit. Untungnya setelah 24 jam disinar, setelah dicek lab lagi, bilirubinnya turun jadi 10.3. Aksara pun boleh pulang (lagi). Horee!!

Kata dokter, memang katanya bayi ASI akan lebih lama kuningnya. Jadi memang kuncinya harus disusui terus dan jemur telanjang setiap pagi. Sampai usianya tiga minggu, Aksara rajin jemur setiap hari dan kuningnya pun berangsur-angsur menghilang. Tapi kalau saya perhatikan, bagian mata putih Aksara masih agak kekuningan, saya kurang paham ini normal apa nggak? Kalau yang saya baca-baca katanya warna kekuningan di mata bisa bertahan sampai beberapa minggu, terutama pada bayi prematur. Mudah-mudahan sih baik-baik aja ya, aamiin.

Tentang Meng-ASI-hi

Enam jam pasca lahiran, Aksara udah langsung rawat gabung sama saya. Saya PD aja kalau saya bisa langsung nyusuin dia karena kunci menyusui itu harus yakin kalau kita bisa. Saya pun dibantu suster untuk latch on. Alhamdulillah, Aksara pun nggak susah untuk perlekatannya. Kalau yang saya pelajari, ASI akan keluar kalau distimulasi. Jadi semakin sering menyusui, produksi ASI pun semakin banyak.

Satu hari, dua hari, yang keluar dari payudara hanya cairan bening (kolostrum). ASI saya baru benar-benar keluar saat hari ketiga, itupun baru yang kiri aja. Dan yang saya pelajari juga, bahwa bayi baru lahir punya cadangan nutrisi di dalam tubuhnya selama beberapa hari, jadi kalaupun ASI belum keluar, dia masih bisa bertahan. Lagipula lambung bayi lahir hanya sebesar kelereng, jadi asupan yang masuk pun belum bisa banyak.

Hari-hari pertama menyusui udah pasti yang paling berat, karena saya sama Aksara masih sama-sama belajar. Puting lecet, begadang, belum lagi luka operasi yang masih nyut-nyutan manja. Hmm, mantap!

Minggu lalu, saya coba minta home visit dari AIMI Bogor (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia). Visit-nya sendiri dilakukan sama certified lactation counsellor, jadi udah pasti ilmunya benar. Saya minta diajarin posisi menyusui yang benar dan latch on-nya juga diperbaiki. Setelah itu malamnya, blasss Aksara nggak ada rewelnya sama sekali! Yay Alhamdulillah. Aksara cuma bangun beberapa jam sekali aja seperti biasa untuk menyusu. Mamak pun bisa tidur lebih lama.

Aksara juga meskipun tergolong “prematur”, nyusunya kuat. Bahkan saya nggak pernah bangunin dia untuk nyusu, karena malah biasanya sebelum 2 jam udah minta nenen haha. Saya sih aliran ibu “menyusui sesering dan selama yang bayi inginkan”. Makanya jadwal menyusu Aksara agak nggak teratur jamnya (meskipun polanya udah kelihatan), dan bisa lebih dari 8 kali sehari.

Saya ngerasa Alhamdulillah banget karena “drama” menyusui saya ternyata nggak begitu heboh. Aksara juga pinter latch on-nya, apalagi kalau udah lapar banget. Kalau dengar cerita teman-teman lain, wah… Rasanya horor banget kalau denger :”) Saya juga ngerasa sangat beruntung karena sebelum lahiran, saya sempat ikutan Kelas Menyusui dari AIMI Bogor *bukan endorse*. Asli, ini bener-bener ngebantu saya soal ilmu menyusui, jadi pas praktiknya memang udah nggak gitu kaget.

Perjalanan memang masih panjang… Tapi mudah-mudahan ini menjadi good start. Saya juga mau ngucapin, Happy Breastfeeding Week, Buibu! Percayalah bahwa semua perjuangan para busui pasti akan worth it ๐Ÿ™‚

Tentang Paternity Leave

Ini juga Alhamdulillah banget karena kebijakan kantor suami ngasih paternity leave sebanyak satu bulan penuh! Ini bener-bener ngebantu banget, sih. Selain bisa jadi ngurus anak berdua, bonding Aksara sama ayahnya pun jadi lebih erat. Plus, awal-awal pasca operasi saya belum begitu bisa ngurus Aksara, jadi urusan gendong-gendong sama ganti popok banyak dilakukan sama ayahnya. Setiap orang yang tanya Abang dapat cuti berapa lama, pasti responsnya, “Ih, enak banget!”

Saya nggak tahu kebijakan perusahaan lain, apakah ada paternity leave? Dan apakah udah masuk UU tentang paternity leave? Pas banget saya lagi nulis ini, ada Instagram post-nya Parentalk yang lagi ngomongin paternity leave, dan banyak banget komentar dari ibu-ibu yang bilang kalau suaminya ada yang nggak dapet, dapet pun cuma 2, 3, atau 5 hari. Ada yang cuti 1 minggu, gajinya pun dipotong 1 minggu! Alamak!

Saya harap sih para ayah bisa dapat lebih banyak cuti melahirkan juga. Karena ya itu tadi, karena childcare kan bukan tanggung jawab ibu aja ya… Jadi seharusnya ayah juga diberi kesempatan untuk involve, terutama di minggu-minggu pertama, yang udah pasti butuh banyak penyesuaian. Plus, saya ngerasain banget jadi orangtua baru seperti apa (stres dan capeknya haha) dan rentan banget kena baby blues. Tapi karena ada Abang yang nemenin, ikutan bangun tengah malam buat nemenin saya nyusuin dan ikut ngurusin Aksara, Alhamdulillah stres semacam itu bisa dihindari.

Ada satu episode dari The Beginning of Life, documentary di Netflix, yang pernah ngomongin tentang parental leave ini, baik untuk ibu maupun ayah, dan dampak positif untuk society in the long run. Jadi masalah maternity/paternity leave ini sebenarnya sangat penting dan sangat perlu ada jaminan kalau para orangtua bekerja bisa mendapatkannya. Mudah-mudahan di Indonesia bisa semakin baik kondisinya, ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s