Why I Love Reading in My Kindle

Gara-gara waktu itu lihat post Instagram-nya Kak Puty tentang Kindle, saya jadi pengen share juga pengalaman pakai e-book reader ini selama beberapa tahun belakangan. Buat saya yang suka baca buku ini, punya Kindle is such a life-changing experience *lebay, but true*

Oke, tapi sebelum itu mari kita berkenalan dulu dengan Kindle.

Kindle ini adalah e-book reader milik the giant retail, Amazon. Seperti namanya, fungsi Kindle cuma untuk bisa baca buku. Oh iya, selain Kindle juga, ada beberapa merk e-book reader lain, seperti Kobo, Nook miliknya Barnes & Nobles (masih ada gak ya ini?), juga Sony. Sama kayak HP, ini cuma masalah preferensi aja lebih suka pakai merk yang mana. Nah, karena saya cuma pernah pakai Kindle doang, mari kita bahas kenapa saya suka banget baca pakai ini.

Kenapa harus punya e-book reader, kan bisa aja baca di HP/tablet?

Sebelum saya berkenalan sama Kindle juga saya suka baca di HP, cuma risikonya bikin mata cepat lelah karena sinar yang terang dari HP. Dan tentunya nggak enak juga karena bikin batere boros, juga suka keganggu sama notifikasi yang lain. Kemudian le husband yang udah punya barang ini dari tahun 2011 memperkenalkan Kindle sama saya. Pas pertama nyoba… Why didn’t I have it since beginning?! *mind blown*

Setelah punya Kindle, barang ini merupakan salah satu barang wajib di tas saya selain HP, dompet, dan charger. Ini beberapa alasan kenapa saya cinta banget sama e-book reader saya sampai ke mana-mana nggak rela pisah.

Pertama, perangkat ini bisa diregistrasi. Kenapa penting? Karena dengan registrasi, kita bisa mendapatkan email resmi, seperti example@kindle.com. Fungsinya bisa untuk beli buku melalui Amazon, membuat collection, hingga mendapatkan update terbaru. Salah satu fungsi yang paling sering saya pakai adalah kirim buku. Jadi kalau lagi nggak ada kabel USB, saya tinggal kirim bukunya melalui email di HP/laptop saya, kirim ke email Kindle. Dan saat terhubung wi-fi, bukunya langsung otomatis ke-download di Kindle, deh!

Kedua, baca menggunakan Kindle memiliki experience yang sama kayak baca buku kertas. Istilahnya adalah e-ink. Beda sama HP yang kalau dilihat di tempat terang harus di-adjust brightness-nya dan kadang menimbulkan bayangan, fitur e-ink itu no glare, jadi tetap nggak bikin sakit mata kalau baca di tempat seterang apapun. Kebetulan tipe Kindle yang saya pakai adalah Kindle Paperwhite, jadi dia bisa nyala dalam gelap. But still, dia nggak terang kayak kalau kita buka HP.

Kiri punya suami, tipe Kindle Touch (udah rusak sekarang haha). Kanan punya saya, tipe Paperwhite.

Ketiga, Kindle punya fitur built-in dictionary. Kalau ada kata-kata yang kita nggak tahu, tinggal diteken aja kata tersebut, dan langsung akan muncul artinya. Saya nggak tahu apa di tipe e-book reader lain sama, tapi kalau di Kindle saya, setiap kata yang saya cari artinya dari dictionary akan secara otomatis muncul di section Vocabulary Builder, semacam digital flashcard, yang bisa di-visit setiap saat. Setiap kali kita udah paham sama artinya, bisa diklik Mastered, dan kata tersebut pun akan hilang dengan sendirinya.

Keempat, they have super long life battery. Kalau Kindle saya di-charge sampai penuh, dia bisa bertahan sampai kurang lebih dua minggu sebelum saya charge lagi! Yaa, lagian fungsinya kan cuma untuk baca aja, jadi nggak banyak makan baterai juga kalau digunakan.

Kelima, Kindle langsung integrate ke Goodreads. Hmm, oke mari kita jelaskan dulu apa itu Goodreads. Goodreads adalah layaknya social media pada umumnya, cuma ini dikhususkan untuk membaca buku. Goodreads punya segudang database buku yang bisa kita kasih review dan rating. Kita juga bisa nge-track buku apa aja yang pengen dan udah kita baca. Tiap tahunnya, Goodreads punya Goodreads Reading Challenge yang men-challenge kita untuk nge-set target baca berapa buku dalam setahun.

Nah, kalau Goodreads-nya udah integrate ke dalam Kindle kita, biasanya kalau kita udah selesai baca buku di Kindle dan ngasih rating ke bukunya, saat kita terkoneksi ke wi-fi, rating-nya akan langsung masuk ke buku tersebut di database-nya Goodreads.

Credit: goodreads.com

Keenam, dalam satu Kindle, kita bisa menyimpan ribuan buku! Tentunya ini sangat menghemat tempat di rumah and less paper.

Gimana caranya menentukan mending beli buku paperback atau versi digital? Kalau saya sih, buku-buku seperti novel, selama bisa baca di Kindle ya baca di Kindle selama tersedia versi digitalnya. Sementara kalau buku-buku collectible atau full color kayak Lonely Planet dan semacamnya memang tetap lebih enak baca versi paperback.

Ketujuh, Kindle punya fitur Highlight, Notes, dan Bookmarks. Jadi kalau ada bagian penting atau kata-kata yang ingin kita highlight, tinggal diklik aja dan bisa langsung tersimpan rapi di dalam sistem Kindle dan bisa kita revisit kapanpun kita mau. Nggak perlu nyatet-nyatet di kertas lagi, deh.

Kedelapan, Kindle punya estimasi reading speed. Kayaknya untuk versi terbaru, Kindle udah punya fitur page numbers yang sama persis seperti versi paperback-nya. Sementara versi yang punya saya masih pakai reading speed, yaitu Kindle bisa mengukur sudah berapa jauh kita baca buku tersebut, biasanya ditandai dengan %. Sementara untuk per chapter-nya, Kindle bisa mengestimasi berapa lama waktu yang dibutuhkan. Biasanya tulisannya ada di ujung bawah, seperti “1 minute left in chapter.”

Yuhuu, sekarang udah tahu kan alasan kenapa saya suka baca pakai Kindle/ebook reader? Kalau di antara para pembaca blog saya yang budiman ada yang tertarik juga buat beli, ini ada beberapa tips yang bisa saya kasih.

Tips Membeli E-Book Reader

JANGAN beli secondhand. Ini saya udah pengalaman pernah beli Kindle secondhand, dan nggak nyampe 6 bulan udah dieeee. Sedih banget pokoknya :”( Masalahnya karena pasar di Indonesia sedikit, kita nggak bisa jual lagi, bahkan si toko yang waktu itu ngejual ke saya juga nggak mau nerima lagi. Jadilah sekarang dia teronggok di rumah sebagai barang rongsokan.

Beli versi refurbished cukup menghemat kantong. Bedanya refurbished sama yang baru cuma beda di tampilan kosmetik aja kok. Barang refurbished ini kayak barang pabrikan lainnya yang suka ada versi reject dan nggak jadi dijual sama Amazon. Padahal mesinnya dijamin 100% masih berfungsi dengan baik.

Punya saya sendiri adalah versi refurbished dan cukup beda jauh harganya dari yang baru. Bedanya cuma ada goresan sedikit di bagian belakang, dan itupun ketutup sama casing. Jadi nggak ada pengaruhnya sama sekali.

Beli yang versi ads. Kindle versi ads dan non-ads juga lumayan jauh beda harganya. Saya sendiri nggak pernah terganggu sih sama iklan-iklan yang muncul, toh iklannya juga datangnya dari Amazon dan tentang buku juga. Saya malah jadi terbantu karena banyak dikasih rekomendasi buku yang disesuaikan sama isi library saya!

Nitip/beli langsung dari US kalau memungkinkan. Kalau agak risky ngirim langsung dari Amazon ke Indonesia, bisa titip teman yang lagi di sana. Karena seperti yang saya udah bilang, karena pasar di Indonesia masih sedikit, harga pasaran di Indonesia jauh lebih mahal daripada harga aslinya. Padahal harga aslinya kalau kita beli langsung di Amazon cuma sekitar US$100, tapi setelah dibawa ke Indonesia, bisa jadi dua jutaan lebih. Lumayan banget, kan?

Featured image from here.

3 thoughts on “Why I Love Reading in My Kindle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s