Cerita Baru: #RumahPakIsmed

Kali ini saya ingin menyampaikan kabar terbaru bahwa… saat ini saya dan suami (insya Allah) akan membangun rumah pertama kami! Alhamdulillah.

Sebenarnya awal kami akan membangun rumah berawal dari sebuah cerita pahit. Di minggu pertama tahun 2017 ini ayah mertua saya meninggal dunia. Dan entah bagaimana caranya, beberapa minggu setelah ayah pergi, saya ngobrol sama mama mertua dan tiba-tiba tersebutlah rumah lama ayah yang sudah lama ditinggalkan, yang mana adalah rumah masa kecil Abang. Awalnya mama ingin merenovasi rumah itu, tapi setelah dipikir-pikir untuk apa juga karena nggak akan ditinggali. Akhirnya mama berpikir mungkin akan lebih baik kalau rumah itu diwariskan ke Abang untuk kemudian Abang dan saya (dan insya Allah keluarga kami kelak nanti) tinggali.

Saya awalnya ragu karena takut Abang nggak setuju, apalagi dengan kondisi rumahnya sekarang yang nggak terawat. Ternyata keragu-raguan saya nggak terbukti, malah Abang excited banget karena dia akan punya ‘project’ baru! Alhamdulillah. Tapi tentunya selain itu, ada alasan lain kenapa kami ingin pindah ke sana. Kami ingin ‘menghidupkan’ kembali rumah ayah. Maka setelah dipikir-pikir, kami akan kasih nama rumah ini sebagai #RumahPakIsmed, karena sampai selamanya rumah ini adalah milik ayah…

Eniho, layaknya gayung bersambut, sampailah pada saat ini di mana kami lagi nyari arsitek. Saya dan Abang emang dari awal menikah iseng nyari rumah di komplek, datengin satu marketing ke marketing lain. Tapi setelah dihitung-hitung kok aduhh bunga KPR-nya mahal banget, apalagi kalau pinjaman jangka panjang. Dan tahu lah kalau rumah di komplek biasanya ready stock, jadi kadang suka agak ngga sreg sama modelnya.

Nah, maka ketika kami bisa bangun rumah sendiri rasanya hepi banget! Tapi permasalahannya adalah, kami harus bener-bener ngebangun dari awal. Maklumlah, rumah belasan tahun ditinggalin. Pas dateng ke sana pertama kalinya setelah sekian lama sama Abang, ya ampuuunn ini rumah udah jadi apaan tau. Makanya bangunannya harus diratain dulu sama tanah, basmi segala hal yang bersarang di situ, kemudian baru mulai dibangun. Kira-kira begitulah rencananya.

Saat ini kami masih lagi dalam tahapan nyari arsitek yang mana kami sangat dibantu oleh tim Arsitag. Jadi bagi yang belum tahu, Arsitag ini adalah semacam marketplace yang menghubungkan antara arsitek dan klien. Saya dan Abang tinggal submit request berikut detailnya, seperti tipe bangunannya apa (residential, misalnya), luas tanah berapa, ekspektasi luas bangunan dan kebutuhan seperti apa, dan tentunya budget yang dipunyai.

Arsitek yang berminat bisa tinggal ngeklik project kami, lalu list arsitek berikut portofolio-nya akan dikirimkan oleh tim Arsitag ke kami. Bahkan selain kami dapat full list-nya, kami dibantu juga untuk men-shortlist hingga 10 arsitek. Jadi saya dan Abang tinggal kembali membuat shortlist hingga 3 arsitek yang kemudian kami ajak ketemuan, deh.

Kira-kira begitulah. Memang masih sangat jauuuh sampai rumah ini bisa ditinggali, tapi mudah-mudahan bisa segera terwujud. Aamiin.

Featured image from here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s