After I Do

Hampir tiga bulan menikah, banyak yang berubah, tapi rasanya nggak ada yang berubah juga.

Kalau dipikir-pikir, saya ya tetap kayak gini aja gitu. Weekdays kerja, weekend libur, sesekali hengot, gitu aja terus sampe bosen. Bedanya sekarang nggak sendiri lagi aja kalau tidur hahaha.

Tapi, ternyata juga banyak yang berubah.

Ada satu cerita yang belum saya ceritakan di post sebelumnya. Jadi, tepat satu hari sebelum saya menikah, saya dapat kabar bahwa saya diterima kerja di lembaga yang saya idam-idamkan!! Sebenernya dari awal saya ngerencanain tahun ini pengen nyari beasiswa terus lanjut S2. Eh, tapi ternyata lembaga ini lagi buka lowongan, yang saya rasa memang posisinya sangat amat cocok sama background saya sebelumnya. Yaudalah apply. Eh nggak taunya keterima! Haha. Jadinya batal deh nyari beasiswa tahun ini.

Awal saya apply itu sebenernya sekitar bulan Mei dan prosesnya cukup lama sampai saya merasa yaudahlah ya mungkin belum rezeki sampai akhirnya saya dapat tawaran itu di akhir bulan Juli. Tepat sehari sebelum pernikahan saya. Dan tiga jam sebelum pengajian pernikahan dimulai. Seneng, tapi nggak bisa mikir juga. Duh gimana dong, besoknya mau hajat terus tiba-tiba dikasih kabar kayak gini. Jadinya seneng-seneng bego nggak tahu harus apa gitu.

Tiga minggu kemudian setelah itu, saya memulai kerjaan baru saya.

Dan itu adalah salah satu dari awal perubahan ini.

Beberapa minggu di awal pekerjaan baru, saya merasa benar-benar nggak punya kehidupan. Bukan karena saya harus lembur atau apa, tapi karena jarak dari rumah (waktu itu saya dan suami tinggal di rumah mertua) ke kantor sangatlah jauh. Dulu di kantor lama saya masih bisa commute karena hanya memakan waktu satu jam 15 menit perjalanan meskipun kantornya di Jakarta. Tapi sekarang saya harus menghabiskan waktu minimal dua jam di jalan untuk sampai kantor, dan minimal 2 jam juga untuk sampai ke rumah. Saya harus berangkat jam 5 subuh tiap pagi, dan sampai di rumah sekitar jam 8 malam. Tapi sebenernya yang paling bikin beban bukanlah rasa capeknya, tapi stresnya. Stres harus bangun jam 4 tiap pagi, stres rebutan bangku di kereta, stres macet di jalan, dan segala macamnya.

Saya juga tentu nggak enak sama suami. Nggak enak karena rasanya saya nggak ada waktu untuk dia. Nggak ada waktu buat nge-date, ngobrol, bahkan makan semeja bareng. Setiap hari rasanya dikejar deadline harus tidur jam sekian biar bisa dapet cukup tidur sampai waktunya bangun jam 4 subuh.

Sampai akhirnya itu mengantarkan saya dan Abang untuk pindah ke apartemen di Jakarta. Tentunya bukan untuk permanen karena kalau beli rumah di sini ya harganya nggak masuk di kantong :))

Dan Abang 100℅ dukung kami untuk pindah ke apartemen. Selain karena alasan biar saya nggak stres, juga agar kami berdua bisa mandiri dan mulai hidup berumah tangga sendiri.

Proses nyari apartemennya super ngebut karena saya udah ngebet pengen pindah. Nggak tahan jadi commuter Bogor-Sudirman. Jadi waktu itu saya sama Abang janjian sama orang marketingnya di hari Selasa, kami cuma ditawarin dua unit studio. Terus saya langsung jatuh cinta sama studio yang satunya. Sorenya saya langsung nawar dan besoknya langsung di-approve aja gitu sama si pemiliknya. Jumat kami lunasin pembayaran, terus Sabtu pindah. Tokcer, ya?

Saya harus bilang awalnya saya sempet takut. Iyalah, dulunya apa-apa disiapin, dimasakin, pulang ke rumah tinggal bobo enak, sekarang semuanya harus serba sendiri. Bangun tidur laper, harus masak dulu. Pulang ke rumah laper, masak lagi. Abis masak cucian numpuk, nggak ada si bibi yang besok paginya dateng dan nyuciin piring. Hahaha. Dulu tinggal serumah sama orangtua, tiap hari ketemu, mau apa-apa masih suka minta, sekarang udah nggak bisa lagi 🙂 Ketemunya juga cuma satu minggu sekali, kadang dua minggu sekali malah 🙂

Senangnya (dan beruntungnya), suami mau banget ngerjain kerjaan rumah. High five!

Kalau saya males masak, Abang yang gantian masak, kadang saya yang cuci baju, Abang nyapu + ngepel. Gitu terus kerjaan rumah tangga selalu kami bagi dua. Mungkin karena itu juga semenjak saya tinggal sendiri sama suami jadi semuanya terasa ringan.

*eciee*

Begitulah cerita si newlywed ini yang belum merasakan asam garam kehidupan rumah tangga (soalnya baru tiga bulan). Haha. See ya!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s