My First Published Article

Tadinya mau nulis tentang update persiapan pernikahan, tapi semakin menjelang hari H makin suntuk. Nanti aja lah ya 🙂 Anyway, kabar terbaru adalah… artikel pertama saya di-publish oleh sebuah koran nasional berbahasa Inggris, THE JAKARTA POST!

Sumpah, ini tuh nggak nyangka banget kalau ternyata beneran di-publish dah beneran ada nama saya tercantum! Langsung heboh, deg-degan, senang bukan main, dan langsung ngabarin orang-orang terdekat! 🙂

Jadi ini ceritanya bermula dari acara kantor saya bulan April lalu. Kantor saya yang adalah sebuah NGO penelitian baru aja ngeluncurin hasil penelitian lapangan tentang perkawinan anak (child marriage) di 5 provinsi di Indonesia. Saya salah satu penelitinya. Nah, saat acara itu, kami mengundang media, salah satunya The Jakarta Post ini.

Salah satu jurnalisnya yang datang tertarik untuk memuat cerita opini tentang perkawinan anak di korannya. Tadinya beliau minta bos saya yang nulis, tapi bos saya bilang biar saya aja yang nulis. Setelah tukaran nomor HP dan email, akhirnya saya janji kirim artikel.

Setelah saya kirim artikel, baru beberapa hari atau satu-dua minggu kemudian saya dihubungi kalau artikelnya mudah-mudahan segera bisa diedit. Saya langsung bilang makasih dan harap-harap cemas. Nah, tapi setelah itu nggak ada kabar lagi. Saya kira, yaudalah ya, mungkin belum jodohnya.

Sampai minggu lalu… saat saya lagi training di wilayah Jakarta Pusat, Country Rep-nya Asia Foundation nyamperin saya, “Selamet ya, artikelmu di Jakarta Post bagusss.”

Terus saya cengo. Ha?

“Lah emang kamu nggak tahu? Iya dimuat, beberapa hari lalu.”

Terus saya panik. Terus saya cari di Google. Terus minta temen nyariin korannya. Dan memang ada! 🙂

Ternyata si mbak yang mengabari saya itu mengirimkan email konfirmasinya ke email official kantor saya, bukan email kantor punya saya pribadi. Pantas saja! 🙂

Alhamdulillah, saya langsung SMS dan kirim email balik, dan senaaang banget rasanya.

Menulis memang adalah bagian dari diri saya; hobi, pekerjaan, semuanya terkait dengan menulis. Menulis adalah satu hal, tapi menulis dan dibaca orang lain itu hal yang lain. Karena kita tidak menulis untuk disimpan, tetapi untuk menyuarakan pikiran. Betul? 🙂

Semoga ini adalah langkah awal agar saya bisa makin produktif, amin.

Featured image from here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s